Selasa, 19 Januari 2016

Kisah Nabi Hud AS

play.google.com

Selesai kisah Nabi Nuh dengan kaum murtad yang tertelan banjir bandang. Bumi mulai dihuni oleh manusia-manusia beriman, dan setan mulai menjadi pengangguran. Ya, pasalnya nyaris kaum Nabi Nuh yang selamat dari azab Allah adalah manusia beriman. Setan dan Iblis tak lagi punya pekerjaan kala itu.


Hari berlalu, tahun demi tahun berganti. Datanglah generasi baru penghuni Bumi. Generasi muda dari keturunan kaum Nabi Nuh. Iman tak dapat diturunkan. Mungkin itu istilah yang tepat untuk menyebutkan bahwa manusia di jaman itu telah terpuruk kembali. Kaum Nabi Nuh yang beriman telah mati dan digantikan anak cucu yang tak mewarisi keimanan mereka. Di sinilah aktivitas menyembah berhala terulang kembali. Dan, diutuslan Nabi Hud di tengah kerusakan iman tersebut.

Nabi Hud merupakan suku Ad yang berasal dari Al-Ahqaf, Hadhramaut (Yamna). Al-Ahqaf merupakan tempat tandus yang dipenuhi padang pasir dan gunung-gunung tandus. Suku Ad membuat sebuah tenda sebagai tempat berteduh setiap harinya. Kaum Ad merupakan kaum yang kuat dan memiliki postur tubuh tinggi. Seperti firman Allah,

"Mereka berkata: 'Siapakah yang lebih kuat daripada kami.'" (QS. Fushilat: 15)

Kekuatan fisik dan tinggi badan menjadi keunggulan mereka, sehingga mereka sombong dan merasa lebih kuat dari siapapun. Mereka dengan mudah menolak ajakan Nabi Hud untuk beriman pada Allah. Bahkan mereka rela mati demi berhala-berhala itu. Tak rela sesembahan mereka diganti.

Seperti yang telah dilakukan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Hud berusaha meyakinkan kaumnya, mengajak mereka berpikir hakikat Tuhan. Namun tetaplah kaum Ad keras kepala dan tak mau tau. Bahkan menakut-nakuti Nabi Hud dengan berhala dan sesembahan buatan mereka.

“Wahai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata.” (Hud: 53)

"Kaum 'Ad berkata: 'Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. " (QS. Hud: 53-54)

Ancaman, ejekan dan berbagai pertentangan dilakukan kaumnya. Namun Nabi Hud masih bersabar mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, sampai suatu ketika ancaman kaum ingkar Nabi Hud sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Nabi Hud mengancam mereka dengan turunnya azab dari Allah. Namun mereka tetap tak berpaling dari keingkaran, justru mereka meminta Nabi Hud untuk sesegera mungkin membuktikan seperti apa adzab Allah itu.

Masa kering datang, masa di mana hujan enggan datang sebagai bukti peringatan Allah atas kemungkaran kaum Nabi Hud. Matahari pun bersinar sangat terik, menyengat seperti membubuhkan percikan api di permukaan bumi. Namun kaum Nabi Hud justru mengejek dan tidak mempercayai bahwa kekeringan yang sedang melanda adalah azab dari Allah. Maka datanglah hari di mana awan gelap datang. Mereka berpikir hujan akan turun, padahal justru di sanalah letak sesungguhnya adzab Allah yang lebih besar.

Udara yang tadinya panas menyengat mendadak berubah dingin menusuk. Angin dahsyat pun datang memporak-porandakan kota. Kaum Nabi Hud bersembunyi di balik tenda-tenda. Berharap tenda mampu melindungi mereka. Namun semua itu tak bertahan lama, karena angin lebih kencang datang, menghancurkan pakaian dan kulit. Sungguh, tidak ada yang mampu menolong kecuali Allah. Namun sampai ajal diujung tenggorokan, mereka enggan mengakui Allah sebagai Tuhan.

“Yang Allah timpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).”
(al-Haqqah: 7)

“Maka jadilah mereka tidak ada yang terlihat lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (al-Ahqaf: 25)

Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi, apalagi barang yang bisa dibanggakan. Semua hancur bersama penghuninya. Semua lenyap kecuali Nabi Hud dan kaumnya yang beriman. Juga pohon kurma lapuk yang masih tersisa untuk kembali memulai peradaban baru. Peradaban yang dipenuhi manusia beriman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar